Pengembangan Agribisnis di Desa Sei Pegantungan Labuhanbatu Bermasalah

LABUHANBATU | Pengembangan agribisnis di pesisir Labuhanbatu terkesan gagal. Sebab, sebahagian besar alat mesin pertanian (alsintan) bantuan Pemerintah untuk kelompok tani (koptan) dijual oknum pengurus ke perorangan. Selain itu juga, bantuan belasan ekor ternak dijual para peternak. Alhasil, pengembalian modal jadi terkendala.

Belasan alsintan berupa mesin handtraktor dan mesin perontok padi bantuan pemerintah ke para kelompok tani layak dipertanyakan keberadaannya. Khususnya, para petani dan peternak di Desa Sei Pegantungan, kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu.

“Alsintan itu perlu dilakukan inventarisir ulang materialnya. Karena, kebanyakan sudah dipindah tangankan ke orang pribadi. Oknum pengurus Koptan diduga menjualnya,” ungkap Kepala Desa Sei Pegantungan, Jaharuddin Harahap, Kamis (28/8/2014) melalui ponselnya.

Baca juga:  Bawaslu: KPU Sumut Tidak Diusir Saat Sidang JR Saragih

Menurut dia, indikasi itu terlihat dari tidak terlihatnya lagi keberadaan alsintan tersebut di masing-masing Koptan. Dampaknya, areal persawahan yang butuh pengelolaan lahan kerap terkendala dikarenakan tidak adanya lagi handtraktor untuk membajak sawah.

Menurut dia, bahkan ada indikasi jika Koptan tertentu mendapat dua kali bantuan alsintan sejenis. Alhasil, Koptan yang semestinya mendapat giliran bantuan menjadi tidak mendapat pembagian bantuan.

“Ada Koptan yang mendapat lebih dari sekali pemberian bantuan. Sehingga, koptan yang belum mendapat jadi tak mendapatkan jatah bantuan dari Pemerintah,” bebernya.

Baca juga:  Ijeck Prihatin Angka Kemiskinan Sumut Mencapai 1,32 Juta Jiwa

Dia menambahkan bantuan ternak juga mengalami persoalan serupa. Sebab, para peternak yang mendapat bantuan ditengarai juga menjual ternak bantuan. Bahkan ada yang sejak awal mendapat bantuan berupa uang tapi tidak membeli hewan ternak.

“Bantuan berupa uang untuk membeli hewan ternak,” imbuh dia.

Perekor dinilaikan Rp5 juta untuk masing-masing Lembu. Sedangkan, Kambing dirupiahkan seharga Rp2 juta perekor.  “Padahal, untuk ternak diganti berupa uang. Tapi, kebanyakan tak membelikan ke ternak. Sedangkan uang pinjaman itu begulir. Akibatnya kelompok lain tak mendapat giliran bantuan,” cecernya.

Baca juga:  Mendibud: Kalau Buku Kurikulum 2013 Dijual, Jangan Dibeli!

Dia juga mengeluhkan jika para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) jarang melakukan kunjungan dan pembinaan ke sentra-sentra pertanian dan peternakan. Akibatnya, para petani peternak tak mendapat perhatian.

“PPL jarang datang ke Desa kami untuk memberikan pembinaan,” tandasnya seraya berharap pihak terkait dapat memberi teguran ke PPL dan penginventarisiran seluruh bantuan yang telah diberikan ke desa itu.

Kepala Kantor KIPP Labuhanbatu Syarifuddin gagal konfirmasi. Sebab, ponselnya sedang tidak aktif dan pesan singkat yang dikirim ke ponselnya tak berbalas. [jar]

Komentar Facebook