Pandemi DBD di Aeknabara, 3 Balita Meninggal

LABUHANBATU | Pandemi demam berdarah dengeu (DBD) serang sembilan warga di kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu. Alhasil, para warga terpaksa dirawat di RSUD Rantauprapat.

Mewabahnya di kawasan itu sudah terjadi selama sebulan terakhir. Dikabarkan empat warga dari Desa Sidorukun dan seorang diantaranya meninggal dunia yang juga bertepatan mengalami komplikasi penyakit typhus. Sedangkan ketiga warga lainnya yang terserang DBD diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan medis membaik di RSUD Rantauprapat.

Mengisolasi sebaran DBD, akhirnya pihak Dinas Kesehatan Labuhanbatu melakukan pengasapan di lingkungan permukiman warga sekitar kediaman warga yang terserang DBD tersebut.

Baca juga:  Pajak Siborongborong Dibiarkan Kumuh dan Semrawut

“Kita sudah laksanakan fogging (pengasapan) hari Jumat dan Sabtu (22-23/8/2014) kemarin di lima Dusun Desa Sidorukun,” kata Tatam, Kabid Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Labuhanbatu, Jumat (29/8/2014).

Sementara, di Desa Pondok Batu dan Emplasmen Aeknabara, Bilah Hulu, dua balita dari lima orang terserang DBD meninggal dunia akibat terlambat mendapat pertolongan medis.

Kedua Balita tersebut atas nama Gilang Erlangga Warga dusun Pondok Batu, Desa Pondok Batu Kecamatan, Bilah Hulu, meninggal Minggu tanggal 24 Agustus 2014 kemarin sekira pukul 22.00 WIB.

Baca juga:  Koordinasi Lintas Sektor Dilakukan Terkait Penerapan PSBB di Sumut

Dan seorang lainnya, Gwen Ajarenka Pasaribu usia 7 bulan juga warga yang sama meninggal pada hari Jumat tanggal 22 Agustus 2014.

Kepala Puskemas Perbaungan, dr Srihartini didampingi Mastiur Nenggolan, Petugas Survelans dan Epidemiologi penanganan penyakit menular dan DBD Puskesmas Perbaungan Aeknabara, Jumat (29/8/2014) mengaku secara lintas sektoral antar Muspika sudah melakukan rapat untuk penanganan DBD yang mewabah. Kemudian menggencarkan kegiatan foggingisasi.

Kata dia, mewabahnya DBD di sana, disebabkan faktor peralihan cuaca yang tak menentu. Tak hanya itu, kondisi fisik yang menurun, terutama pada anak-anak di bawah sepuluh tahun dan balita mempermudah penyebaran virus Dengue yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti ini.

Baca juga:  Jokowi Mengaku Hormati Keputusan Gerindra Dukung Prabowo di Pilpres 2019

“Tragisnya, sebagian besar warga yang terserang DBD baru dibawa ke rumah sakit setelah keadaan pasien benar-benar parah,” jelas dia.

Pihaknyapun menghimbau agar warga masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dengan cara memberantas tempat sarang nyamuk dengan empat plus. “Yakni, Menguras, Menutup, Mengubur dan Memantau jentik nyamuk,” pinta dr Sri. [jar]

Komentar Facebook