Ini Cara PSMS Menjaga Mental Pemain Pasca Putusan PSSI

MEDAN| Hasrat para pemain PSMS untuk tampil di kompetisi Divisi Utama 2015 terpaksa tertahan, akibat keputusan PSSI.  Hal ini tentu saja berpengaruh psikologi dan mental para pemain.  Kondisi ini memaksa pelatih meracik program agar skuad Ayam Kinantan, tak melempem.

Pelatih fisik PSMS Medan, Ardi Nusri, mengakui para pemain pasti mengalami frustasi akibat keputusan PSSI yang mengakhiri seluruh kompetisi 2015 tanpa dimulai, buntut dari force majuer. Depresi akan lebih dialami pemain yang oleh manajemen klub tim dibubarkan.

“Mustahil bila kita mengatakan keputusan PSSI itu mempengaruhi pemain. Pasti mempengaruhi (pemain),” yakinnya.

Baca juga:  Perludem: KPU Harus Diskualifikasi Calon Kepala Daerah yang Terlibat Korupsi

Ardi yang juga dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (Unimed) ini, menambahkan, ia melihat hal tersebut saat pemain menggelar latihan. Namun, ia mensyukuri sebab, keputusan tersebut tidak terlalu mempengaruhi M Zulkifli Mursal dkk.

Sebab, kondisi PSMS lebih baik ketimbang klub lainnya, yang meliburkan tim tanpa batas waktu hingga dibubarkannya tim. Jelas hal tersebut, membuat pemain yang mengalami hal itu depresi luar biasa.

Memang, manajemen tak membubarkan tim. Dengan keyakinan kompetisi akan bergulir, skuad asuhan Suharto AD dan Edi Syahputra itu tetap dipertahankan dan mengelar latihan rutin. Jadwal pun disusun, dengan latihan pagi hari dan classroom sore harinya di Makodam I/BB Jalan Jenderal Gatot Subroto, Medan.

Baca juga:  Kandaskan Argentina di Final, Jerman Raih Gelar Juara Piala Dunia 2014

“Indikator yang saya lihat itu dari latihan. Secara psikologi, kecewa pemain pasti ada, tapi mereka tetap semangat. Mereka tetap serius mengikuti latihan lapangan dan classroom. Dari psikologi mereka bisa saya lihat,” tuturnya.

Meski demikian, pria berkumis itu melihat dampak positif yang didapat buntut dari keputusan tersebut. Fisik pemain yang belum memenuhi standar, memiliki banyak waktunya baginya mengenjot stamina Andi Prayoga cs. Program yang telah disusun pun harus diterapkan kepada pemain.

Baca juga:  Rektorat Menyayangkan Anarkisme Mahasiswa USU

“Porsi dan menu latihan diatur, karena jadwal kompetisi belum jelas. Tapi porsinya tetap dijaga. Sedangkan fisik pemain memang saya akui belum terpenuhi. Karenanya keputusan ini ada untungnya bagi kami untuk memenuhi standarisasi pemain. Kemampuan maksimal pemain belum terpenuhi. Masih dibawah standar. Artinya, pemain harus bisa bermain 2 x 45 dengan pressure tinggi, dalam intensitas tinggi,” pungkasnya.

Komentar Facebook