Peremajaan Tanaman Kakao di Sumut Mendesak

                        
 Hasil gambar untuk kakao di sumut
Medan, SUMUTSATU.COM – Tanaman kakao di Sumatera Utara (Sumut) saat
ini didominasi oleh perkebunan rakyat. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumut,
luas pertanaman kakao mencapai 64.875,35 hektare dengan produksi 41.117,22 ton.
Dari luasan tersebut, kebun kakao yang
dikelola rakyat mencapai 64.434,48 hektare dengan produksi 40.765,22 ton.
Namun, produksi tersebut sebenarnya masih bisa digenjot jika dilakukan
peremajaan terhadap komoditas unggulan Sumut ini.

“Potensinya masih ada. Karena memang rata-rata tanamannya sudah tua
sehingga produktivitasnya pun rendah. Itu sebabnya peremajaan ini sudah
mendesak,” kata petani kakao di Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat,
Supiran, Selasa (27/3) seperti dilansir medanbisnis.com.

Supiran menjelaskan peremajaan akan memberikan banyak keuntungan bagi petani
yang produksi tanamannya terus turun setiap tahun. Oleh karena itu, banyak
petani yang mengalihkan tanamannya ke sawit dan jeruk. Meski ada juga karena
faktor harga, tapi pengelolaan kebun yang asal bukan hanya membuat produksi
turun tapi juga semakin luasnya kebun yang terserang lalat buah.

ia menambahkan, dengan adanya program peremajaan, petani juga berharap bisa
mendapatkan lebih banyak penyuluhan. Apalagi banyak perkembangan hingga
teknologi yang masih belum diketahui petani mulai dari cara peningkatan
produksi hingga pencegahan terjadinya busuk buah. 

Menurut Supiran, hal tersebut sangat penting terutama bagi masyarakat yang
hanya mengandalkan kakao sebagai sumber pendapatannya.

Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawati mengatakan, peremajaan tanaman kakao
sebenarnya sudah diagendakan. Apalagi Sumut sudah memiliki sumber entres kakao
di Kabupaten Deli Serdang seluas dua hektare.

“Saat ini masih dalam proses. Tapi sudah ada tujuh sentra kakao di Sumut
yang siap untuk meremajakan tanaman kakao-nya yakni Asahan, Langkat, Mandailing
Natal, Simalungun, Deliserdang, Nias dan Nias Selatan,” kata Herawati.

Herawati mengatakan, pertanaman kakao memang berbeda dengan komoditi perkebunan
lainnya terutama sawit dan karet yang masih banyak dikelola perusahaan
perkebunan. Itu sebabnya, Dinas Perkebunan terus mendorong petani untuk bisa
mengelola kebunnya dengan lebih baik sehingga bisa menghasilkan buah yang
bernas dan sesuai keinginan pasar internasional. 

menurut Herawati, pasar ekspor yang masih terbatas memang menjadi peluang bagi
petani kakao. Apalagi produksinya masih bisa digenjot dari yang saat ini
berkisar 25 ton per hektare. Dinas Perkebunan sendiri, kata Herawati, sangat
komit dengan hal tersebut. Dimana akan membantu petani yang berencana untuk
meremajakan tanaman kakao-nya tahun ini.

“Karena kakao masih jadi unggulan ekspor kita. Apalagi juga memberikan
kontribusi yang tidak sedikit terhadap perekonomian Sumut. Makanya kita juga
mengajak petani untuk bisa bekerja sama dalam mengembangkan tanaman ini, tentu
saja dengan pengelolaan yang lebih tepat atau ala kebun,” pungkas
Herawati.[dw]

Komentar Facebook

Baca juga:  Kronologi Kematian 3 Pencari Batu Akik di Nias Utara