NU, Indonesia, dan Hadrat Maulana al-A’dham Syekh Hasyim Asy’ari

Riduan Dalimunthe (dok. pribadi)

Hampir seabad yang lalu. Ketika revolusi Arab terjadi Mu’tamar Al-Alam Al-Islamiyyah diadakan oleh pemerintah Mekkah yang baru. Seluruh kaum agamawan Islam dikumpulkan, sementara Mesir juga tak mau kalah mengadakan konferensi serupa. Akrab disebut konferensi khilafah, karena memang fungsi konferensi ini adalah melihat seberapa “legitimate” pemerintah yang berdiri itu untuk meneruskan status khilafah formal.

Undangan resmi dari Mekkah jatuh ke alamat Sarekat Islam, kepada HOS Tjokroaminoto yang segera bersiap untuk berangkat. Tak pelak ini menimbulkan kegalauan di antara kaum tua yang juga belum sembuh betul dari pukulan telak akibat datangnya kaum muda modernis-reformis beberapa tahun lalu.

Baca juga:  BPK Sumut Diminta Audit Investigasi LKPD Labuhanbatu

Kaum muda lulusan Al Azhar di Mesir pulang kampung dengan membawa gerakan baru bertajuk “An Nahdlah” atau kebangkitan yang merupakan hasil dari elaborasi ulama modern Mesir, narasi ini merebut hati kaum Islam baru di banyak wilayah di Sumatera dan Jawa, kaum tua merasa terlupakan. Ada kebimbangan zaman, perubahan segera terjadi. Kesadaran perlu dibimbing, harus ada yang menengahi.

Maka itulah Mbah Hasyim Asy’ari memilih posisi pengayoman itu. Menemani mereka yang tua dan gundah, karena zaman baru sedang membuka. Yang tua perlu siap berbenah, yang muda perlu bijak ngemong atine wong tuwo, sederhana seperti itu tapi butuh taktik yang tepat.

Baca juga:  Dua Anggota Man Batak Ditembak Polisi

Demi itu juga, Mbah Hasyim mengutus Mbah Wahab Chasbullah dkk untuk turut hadir dalam kongres khilafah di Mekkah sebagai delegasi Hijaz versi kaum tua. Sedangkan Kiai Ahmad Dahlan atas nama Muhammadiyah memilih menghadiri kongres serupa di Mesir. Berarti dari tanah Jawa saja, kita punya sesungguhnya tiga delegasi Hijaz.

Langkah Mbah Hasyim inilah yang kemudian kita tahu menjadi cikal bakal berdirinya ormas NU. Langkah yang terbilang cerdas dalam politik internasional dan melegakan posisi kaum tua di wilayah lokal, pemerintah Mekkah yang baru tidak mungkin menolak delegasi manapun karena butuh sebanyak mungkin hadirin, dan ini dimanfaatkan betul.

Baca juga:  Pemuda LIRA SUMUT, Bachtiar : Pilkada Langsung Dinilai Gagal

Spekulasi tingkat tinggi ini sangat jitu dan berhasil. Kata Nahdhah, kebangkitan, bahkan bergeser pemaknaannya. Dari yang dulunya lekat kepada kaum muda modernis menjadi kaum Nahdliyin yang lekat dengan tradisi. Tradisi dan modernitas hanyalah putaran wajar dalam sejarah, apa yang dulu modern akan jadi tradisi dan tidak menutup kemungkinan pun sebaliknya.

SELAMAT HARLAH NU KE-94

Muhammad Riduan Dalimunthe
Direktur Eksekutif Labuhanbatu Institute

Komentar Facebook