Kader Demokrat: Akhyar Oportunis, Bukan Sosok Hebat

Akhyar saat bergabung menjadi kader Partai Demokrat, beberapa waktu lalu. [dokumentasi]

MEDAN – Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Medan Akhyar Nasution telah loncat dari PDI-P ke Partai Demokrat demi mengikuti kontestasi Pilkada Kota Medan 2020. Pasalnya, PDI-P diprediksi lebih memilih Bobby Nasution untuk dijagokan sebagai Calon Walikota Medan.

Kehadiran Akhyar di Partai Demokrat kemudian membuat sejumlah elit di tingkat pusat menyatakan bahwa partai berlambang merci itu mendapatkan sosok yang hebat.

Namun hal itu disangkal oleh salah satu kader Partai Demokrat ternama di Sumatera Utara, yaitu Muhri Fauzi Hafiz melalui akun facebook-nya di link https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=3833965526619636&id=100000186786211 . Anggota DPRD Sumut periode 2014-2019 tersebut menegaskan bahwa Akhyar bukan sosok hebat.

Baca juga:  Afifuddin Resmi Mundur dari Jabatan Ketua Timses Edy-Ijeck

“Beberapa orang mengatakan begitu, bahwa Partai Demokrat Kota Medan mendapatkan sosok hebat dalam menghadapi Pilkada Kota Medan tahun ini. Sebagai salah satu kader dan pengurus Partai Demokrat Sumut, saya menyatakan tidak begitulah,” katanya saat dikonfirmasi via telepon selular, Rabu (29/7/2020).

Muhri menjelaskan, ada tiga hal yang menjadi dasar mengapa dia menegaskan bahwa Akhyar bukan sosok hebat bagi Partai Demokrat. “Pertama, Partai Demokrat punya kader yang lebih hebat dari Akhyar. Apalagi di Medan, ada nama-nama kader yang sesungguhnya punya kemampuan dan pengabdian yang lebih nyata untuk partai,” ujarnya.

Baca juga:  Gugatan Partai Idaman Ditolak Majelis Hakim PTUN

Kedua, ungkap Muhri, menjadi kader partai tidak saja diuji saat tidak menjabat atau dikenal di partai. Tetapi juga saat seorang kader harus menerima keputusan partai.

“Disitulah kita mengakui loyalis atau oportunis. Dan yang ketiga, kesantunan yang ditunjukkan para kader hebat Partai Demokrat Kota Medan dan Sumatera Utara, sehingga pergumulan pendapat yang pro dan kontra jarang tampat di atas permukaan,” paparnya.

Baca juga:  KPK Minta Sumut Terapkan Sistem Anggaran Transparan

Selain itu, Muhri menilai bahwa sesungguhnya Partai Demokrat harus lebih berhati-hati karena Akhyar rela keluar dari partai sebelumnya demi kontestasi yang sifatnya sesaat dan berjangka waktu pendek.

“Dia baru seumur jagung di partai kami (Partai Demokrat), sedangkan yang sudah membesarkan dirinya pun bisa ditinggalkan,” tandasnya. [Lulu]

Komentar Facebook