Webinar IAKMI Sumut: Penanganan Stunting Bisa Adopsi Cara Pemberantasan Covid-19

Medan- Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Provinsi Sumatera Utara kembali menggelar webinar, Sabtu (20/3/2021). Diisi narasumber ahli, diskusi mengambil topik ‘Covid dan Stunting, Bisa Terselesaikan di Kampung KB?’.

Tampak narasumber tersebut di antaranya Deputi BKKBN Pusat Prof Drh Muhammad Rizal M Damanik PhD, Pakar Gizi FKM USU Prof Albiner Siagian dan Analis Bina Keluarga, Balita dan Lansia BKKBN Provinsi Sumut Olifa Jelita Asmara MPsi.

Webinar secara resmi dibuka oleh Kepala BKKBN Perwakilan Sumut Drs Syahidal Kastri MPd dan Ketua IAKMI Sumut Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD.

Destanul Aulia menegaskan IAKMI Sumut yang beranggotakan 3.000 ahli kesehatan masyarakat siap terjun ke Kampung Keluarga Berkualitas.

“Serta keanggotaan muda IAKMI Sumut yang tersebar di 12 kampus kesehatan masyarakat siap berkolaborasi multisektor sampai ke akar rumput. Apalagi kini IAKMI Sumut sudah membentuk Kolaborasi Akar Rumput Covid-19 (KAR-C),” tegas Dosen FKM USU itu.

Baca juga:  Alfamidi Salurkan Sembako untuk Jurnalis

Di sesi pemaparan, Prof Albiner Siagian menegaskan pentingnya pengarus-utamaan gizi sebagai pondasi pembangunan bangsa.

“Bank Dunia juga menyadari itu. Karena stunting (kondisi tinggi badan anak yabg tidak sesuai dengan anak seusianya karena persoalan gizi-red) ini bukan soal tubuh pendek dan sebagainya, tapi juga soal masalah kehidupan ke depan,” kata Albiner.

Albiner mengajak seluruh pihak serta multisektor untuk sama-sama sepakat bahwa stunting adalah kasus luarbiasa.

Untuk itu, Albiner menegaskan perlunya mengadopsi penanganan pemberantasan Covid-19 untuk diterapkan pada penanganan stunting.

“Kalau bisa mirip-mirip lah soal tracing dan sebagainya. Jika ditemukan kasus langsung cepat ditangani,” ujar Albiner.

Dan untuk itu pula, Albiner menyarankan Gubernur sebagai kepala daerah memiliki kuasa untuk mengordinir penanganannya.

“Gubernur Sumut Bisa menjadi komando gerakan multisektor. Ini bisa diawali dengan keroyokan multipihak di kampung keluarga berkualitas atau kampung tangguh bermartabat yang sedang dibangun Pemprov Sumut,” urai Albiner.

Baca juga:  Inalum Bantu 150 Rumpon di Desa Medang dan Gambus Laut

Sementara itu, narasumber lainnya yakni Prof Drh Muhammad Rizal M Damanik menjelaskan persentase stunting di Indonesia terbilang tinggi yakni 27,6 persen tahun 2019.

“Standar WHO, batas toleran stunting 20 persen,” urai Rizal Damanik.

Untuk itu, perlu kolaborasi, kerja keras dan kerja cerdas multisektor agar target 2024 bisa turun sampai 14 persen.

Ini juga menjadi model pendampingan Kampung Keluarga Berkualitas mencegah stunting yang melakukan pendekatan multisektor dan peran masyarakat.

“Hilangkan ego sektoral. Meski Presiden RI Bapak Jokowi menunjuk BKKBN sebagai leader penanganan stunting, namun jangan jadikan ini hanya masalah BKKBN semata. Ajak semua pihak termasuk ahli kesehatan untuk terjun ke Kampung Keluarga Berkulitas agar target bisa tercapai,” ujar Rizal Damanik.

Pelopor Gerakan Bersama

Sementara itu, narasumber Analis Bina Keluarga, Balita dan Lansia BKKBN Provinsi Sumut Olifa Jelita Asmara MPsi menegasksn keluarga berkualitas merupakan poin utama membentuk komunitas atau negara berkualitas.

Baca juga:  Ketua SMSI Sumut : Wartawan Layak Diberi Insentif Meliput Pandemi Covid-19

Olifa mengurai program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga Kependudukan Keluarba Berencana) sebagai upaya mewujudkan laju pertumbuhan pendudukan yang tumbuh seimbang dan SDM unggul melalui pendekatan keluarga.

Hal itu bisa dilakukan dengan sejumlah kelompok kegiatan di antaranya bina keluarhmga balita, bina keluarga remaja, bina keluarga lansia, pusat informasi konselibg remaja serta usaha peningkatan pendapatan keluarga akseptor.

Webinar diikuti sebanyak 70 an peserta. Di antaranya Prof Aman Nasution mantan Dosen FKM USU, serta para ahli kesehatan masyarakat di Provinsi Sumatera Utara.

Prof Aman Nasution berharap IAKMI Sumut bisa menjadi pelopor gerakan bersama penanganan stunting di Sumatera Utara.

“Usaha penanganan stunting ini sudah banyak di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja belum terkodinir dengan baik. Maka itu IAKMI Sumut harus bisa menjadi pelopor gerakan bersama penanganan stunting,” tukas Prof Aman.

Reporter: Wiji Gatsu

Komentar Facebook