Wajah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia dan Strategi Menjawab Tantangan

Opini | Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang lain.

Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (children with special needs), memang tidak selalu mengalami problem dalam belajar.

Namun, ketika mereka diinteraksikan bersama-sama dengan anak-anak sebaya lainnya dalam sistem pendidikan regular, ada hal-hal tertentu yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru dan sekolah untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Dalam upaya mengoptimalkan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, perlu adanya kesadaran penuh yang dimiliki oleh para pendidik mengenai pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, kondisi dan karakteristik (kelebihan dan kekurangan) anak berkebutuhan khusus, dan penanganan didalam dunia pendidikan yang dapat dilakukan oleh guru didalam mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus.

Di Indonesia, ada undang-undang yang khusus mengatur tentang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik berkebutuhan khusus atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah juga mengeluarkan sebuah peraturan tentang pengelolaan pendidikan anak berkebutuhan khusus, di dalam Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2010 (pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus).

Baca juga:  Tak Hadir UNBK, 77 Siswa di Padang Lawas di-Drop Out

Lahirnya pendidikan inklusif didorong oleh adanya kesadaran bahwa semua anak berhak atas pendidikan yang layak tanpa memandang sisi kelemahan seseorang, agar tidak lagi terjadi diskriminatif pada anak-anak yang memiliki keterbatasan, serta mereka akan mendapat layanan yang sesuai untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Permendiknas No. 70 Tahun 2009).
Para pendidik atau guru didalam pendidikan inklusi sangat membutuhkan pengetahuan yang benar tentang penanganan pada anak berkebutuhan khusus. Didalam pengelolaan pada pendidikan inklusi, guru juga membutuhkan kesiapan dan kesadaran tentang pentingnya pendidikan pada ank berkebutuhan khusus, sehingga mereka tidak merasa terbebani ketika harus melaksanakan pendidikan inklusi.

Tuntutan-tuntutan tersebut akan meningkatkan ketegangan guru, tetapi mindfulness/ kesadaran akan membantu guru untuk mengatasi menurunkan tingkat stress pada diri guru ABK, sehingga diharapkan penanganan pada ABK lebih optimal.
Teori tentang kesadaran atau yang sering disebut sebagai Mindfulness, pertama kali dikembangkan oleh John Kabat Zin didalam budaya Barat didalam sebuah penelitian klinis, yang berfokus untuk menurunkan tingkat stress melalui model meditasi yamg penuh dengan kesadaran, tanpa adanya justifikasi /penghakiman.
Ada beberapa prinsip yang harus dipahami didalam mindfulness teaching di dalam pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, yang harus dilakukan oleh seorang guru:

Baca juga:  Presma Unimed: Saatnya Kolaborasi Lestarikan Hutan Mangrove

1. Compassion and Non-judgment

Guru harus sadar akan panggilannya sebagai seorang pendidik, sehingga guru dapat mendidik dengan penuh kasih. Tidak boleh ada “penghakiman” di dalam proses pembelajaran.

2. Responsive, Not Reactive

Guru untuk anak berkebutuhan khusus harus peka terhadap perilaku anak, yang unik dan cenderung tidak terkontrol.

Didalam memaknai setiap perilaku yang muncul, guru diharapkan memikirkan terlebih dahulu setiap respon dan reaksi terhadap perilaku muridnya, Jangan terlalu cepat bertindak, tanpa berpikir terlebih dahulu karena hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan siswa.

3. Teacher Self-Knowledge and Reflection

Guru berusaha memiliki pemahaman yang utuh tentang dirinya, dan mencoba melakukan refleksi ketika berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, guru harus melakukan refleksi yang mendalam terhadap setiap kondisi yang ada (apa yang terjadi, apa yang harus dilakukan, apa dampaknya terhadap anak berkebutuhan khsus yang sedang ditangani)

Baca juga:  Recovery Bond, Jurus Jitu Redam PHK Massal?

4. Mindful Interpretation of Student Behavior:

Attribution and Dialectical Thinking
Di dalam memahami perilaku seorang anak, terutama perilaku pada anak berkebutuhan khusus, guru harus berpikir secara atribusi dan dialetik. Berpikir atribusi dan dialetik adalah berpikir analitik, dimana guru harus benar-benar memahami dengan penuh kesadaran tentang apa yang menyebabkan perilaku anak yang terkadang dianggap aneh atau berbeda dari anak pada umunya (membangun pemahaman dengan komprehensif), yang diharapkan akan berdampak kepada perilaku guru terhadap murid.

Mengimplementasikan mindfulness teaching untuk ABK tidaklah mudah, karena membutuhkan upaya dan daya yang cukup besar dari sang guru, tetapi jika guru berupaya mengimplementasikan di dalam proses pembelajaran akan memberikan dampak yang luar biasa didalam upaya optimalisasi pada anak berkebutuhan khusus.(Ari)

Oleh : Ilham Firmansyah Panjaitan  Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Medan

Komentar Facebook